SELAMAT dan SUKSES Kepada Puskesmas Kotabumi II Atas Diraihnya Sertifikat ISO 9001-2000  

     HALAMAN UTAMA
     Arsip Berita
     INDEX BERITA
     Berita Utama
     Kotabumi Bettah
     Lampura Sikep
     Politika & Hukum
     Radar Way Kanan
     Segitiga Emas
     Ruwa Jurai
     Pendidikan
     Kriminal
     Lakalantas
     Nasional
     Ekonomi
     Society
     Pariwara
     Olahraga
     Selebriti
     Opini
     INFORMASI
     Radar Group
     Telepon Penting
     ADVERTORIAL
     Tentang Kami
     Profil Redaksi
     Galeri Foto
     Buku Tamu
     Kontak Kami
  |O|u|r| C|l|i|e|n|t|
 
Jaya Sakti
 
STKIP Muhammadiyah Kotabumi
  Berita Berita Utama
Selasa, 04 Mei 2010 07:31:44 Klik : 263 Kirim Berita Ini! Print Berita Ini!
Share |
Kematian Emila Dinilai tak Wajar
ABUNGPEKURUN-Pasca tewasnya Emila Wati yang ditemukan mengambang di Sipon 11 Kalibrantas Kelurahan Kelapatujuh, masih menyisakan kesedihan mendalam pihak keluarga.

Tampak rumah panggung dinding papan ukuran 3 x 6 meter itu masih ramai dikunjungi warga setempat dan sanak family. ”Kami mengikhlaskan kematian Emila Wati apabila yang terjadi adalah aksi bunuh diri, namun jika kenyatannya Emila Wati tewas karena dibunuh, kami mengharapkan yang berwajib dapat mengusut tuntas peristiwa ini, dan memberikan hukuman yang seberat-beratnya kepada pelaku,” ujar Nelly Farida (31) selaku kakak tertua korban di rumah duka kemarin (3/5).

Dikatakan, jika Emila hamil sampai 8 bulan, tentunya itu terjadi sejak berada di kediamanya dan belum merantau. Karena, Emila Wati berangkat ke Jakarta pada akhir Desember 2009 lalu.”Kemungkinan-kemungkinan bisa saja terjadi,” kata dia.

Nelly mengaku ikut memandikan jenazah adiknya, terlihat bagian wajah korban membiru, bibirnya pecah, kemudian mengeluarkan darah dari bagian kepala belakang dan mulut serta telinga dan tangannya terdapat sayatan.” Kulit tubuhnya melepuh hingga wajahnya sulit dikenali,” kata dia seraya mengatakan, adiknya tewas mengenaskan dan kuat dugaan korban pembunuhan. “ Ini jelas korban pembunuhan,” tegasnya.

Menurut Nelly, berdasarkan informasi dari warga yang ada di tempat kejadian perkara, saat adiknya ditemukan tangannya tengah menggenggam rumput yang ada di pinggir kali, artinya saat itu Emila Wati berusaha untuk menyelamatkan diri dari arus air.

Disampaikannya, pada Senin (26/4) Emila Wati pernah menelpon dirinya, yang meyatakan masih berada di Jakarta.

Kemudian, pada Selasa (27/4) Emila menyatakan kabarnya baik-baik saja, namun tidak bekerja lagi, dan tinggal bersama rekannya di Jakarta. Selanjutnya, Rabu ( 28/4) Emila menghubungi bibiknya Ira, seakan-akan ada yang akan dibicarakannya, namun tak berhasil disampaikan.

Tak heran jika pihak keluarga merasa sangat kaget atas peristiwa itu. “Setelah lima bulan tidak pernah bertemu, dan pulang sudha tinggal nama,” ungkapnya.

Sementara itu, sehari sebelum ditemukannya mayat, sekitar pukul 20.00 Wib, orangtua korban, Semarni (45), mendapatkan firasat buruk. Pada saat duduk diberanda rumahnya, Semarni melihat seekor burung hinggap di kayu yang ada di depan rumahnya, kemudian mematuk sebanyak 3 kali, lalu pergi tak selang berapa lama burung itu datang kembali mamatuk lagi.

”Dan terakhir burung itu datang, lalu hinggap di bubungan rumah. Kemudian mematuk dan pergi tak kembali lagi,” tuturnya dengan nada lirih.

Sementara itu, sekretaris Kecamatan (Sekcam) Abung Pekurun Rauf Ali, S.E beserta rombongan mengunjungi kediaman Emila Wati. Kunjungan itu sebagai upaya ikut belasungkawa dan prihatin kepada keluarga korban. Rombongan kecamatan itu disambut langsung oleh pihak keluarga korban, tak lama kemudian datang Kepala Desa Sumbertani Suwantoro.”Kami hadir disini untuk mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya atas peristiwa yang menimpa keluarga korban,” kata Rauf disela-sela kunjungan itu.

Diharapkan, dengan kunjungan itu dapat meringankan beban yang diderita keluarga korban. “Kami mengharapkan agar pihak keluarga dapat mengihklaskan kepergian korban, sehingga arwahnya dapat diterima disisi Allah SWT,” katanya.(uan/ari) …..

Korban Sudah Hamil Sejak Berada di Lampung

ABUNGPEKURUN—Emila Wati (21) warga RT 1 Dusun 1 Desa Sumbertani Kecamatan Abung Pekurun, Lampung Utara, yang ditemukan tewas di Kalibrantas Sipon 11 Kelurahan Kelapatujuh Kecamatan Kotabumi Selatan, Jumat (30/4) itu ternyata telah hamil sejak masih berada di Lampung Utara. Hal itu diungkapkan Santi (27), warga Padangratu Lampung Tengah (Lamteng), rekan korban saat masih berada di yayasan penampungan tenaga kerja wanita di Jakarta. Sedangkan, remaja itu diketahui belum pernah menikah, bisa dikatakan perawan kampung.

Dikatakan Santi, saat masih berada di yayasan sejak 10 Januari 2010 lalu, ia pernah menanyakan terkait kehamilan Emila Wati, karena curiga kedua kaki korban membengkak.”Saya tanya kenapa kedua kakinya bengkak,” ujar Santi via telepon genggam kemarin (3/5).

Selanjutnya, Emila Wati hanya menjawab tidak perlu jelaskan penyebabnya. Apabila mengingat kejadian itu, dirinya ( Emilia, red) merasa sangat sedih. Dengan jawaban singkat dari Emila itu, Santi dapat memastikan rekan kerjanya tengah hamil dua bulan, itu dibuktikan dengan keadaan kedua kakinya yang bengkak.”Apabila dirinya menceritakan musibah yang dialami, akan merasa sedih,” tuturnya.

Diceritakan, sekitar bulan Maret 2010, ia pernah menghubungi Emila untuk pulang kampung dengan mengambil cuti bersama pada awal April 2010 lalu. Namun, saat waktu yang dijanjikan telah tiba, ternyata

Emila telah pulang kampung dengan alasan akan menikah dengan pacarnya.”Siapa pacarnya saya tidak tahu pasti, karena berkali-kali saya tanyakan dia enggan menjawab, apalagi menjelaskan alamat pacarnya itu,” terangnya.

Menurut Santi, Emila Wati diketahui hamil oleh majikannya, kemudian dikembalikan ke yayasan untuk di pulangkan ke Lampung sekitar bulan empat.” Kami berdua tidak bekerja pada tempat yang sama, hanya saja pernah bersama di yayasan penampungan tenaga kerja wanita di Jakarta.

Untuk memastikan Emila Wati adalah warga Sumbertani, Radar Kotabumi langsung meluncur ke rumah korban. Dirumah itu, Radar bertemu dengan orangtua korban Khailani (57) dan Sumarni (45), yang ditemani bibinya Jamila (42). “Kami tidak percaya kalau Emila telah pergi,” ujar Khailani dengan suara sendu.

Menurutnya, Emila merupakan putri ke 4 dari 5 bersaudara. Semasa hidupnya, Emila terkenal periang, namun tertutup apabila ada persoalan. “Apabila ada masalah pribadi, Emilia selalu tertutup terhadap keluarga,” ujar Jamila.

Dikatakan Jamila, Emila Wati sebelum berangkat bekerja ke Jakarta sempat tinggal dirumahnya di Desa Sumbertani Kecamatan setempat selama 3 bulan, kemudian pada akhir bulan Desember 2009 Emila Wati pergi bekerja melalui biro jasa tenaga kerja. Hal itu diketahui karena saat hendak berangkat korban sempat mampir ke rumahnya, yang ada di Desa Waylunik Kecamatan Abung Selatan untuk menginap sekaligus berpamitan.” Dia bekerja sebagai baby sister di wilayah Cengkareng,” terang Jamila.

Jamila menerangkan, Emila menyelesaikan pendidikan SMK di Kecamatan Abung Semuli, saat itu tinggal bersamanya didaerah setempat.

“Selama duduk di SMK, Emila tinggal bersama saya, jadi saya tahu betul sifatnya,” pungkasnya. (uan/ari)

Share |
<< Kembali

Berita Berita Utama Lainnya :

  RADAR LAMPUNG
    RADAR WAY KANAN
Tim Sukses ASRI Pertanyakan Foto Gubernur di Calon Lain
Hari Ini, 8.153 Siswa MI dan SD UN
Lima Srikandi Bersaing Ketat di Pilkada
Masyarakat Pertanyakan Realisasi Kompor Gas
PNS dan Kakam Diindikasikan Terlibat Pilkada
    LAMPURA SIKEP
Hendarsyah Kades Bandar Putih
PLTS Desa Sumbertani Pasok Energi Untuk 30 KK
Distako-PMII Perindah Kota Kotabumi
Pop Singer Akan Masuk Agenda Tahunan
Minta Dikembalikan Surat Berharga
  RADAR KOTABUMI
Radar Kotabumi

  SITUS RADAR GROUP
    Radar Lampung
    Rakyat Lampung
    Radar Tanggamus
    Radar Lamsel
    Radar Lambar
    Radar Lamteng
    Radar Metro
    Radar Tuba